1️⃣ Arsitektur FTP (Model Client–Server)
FTP menggunakan model client–server, artinya ada dua pihak yang berkomunikasi:
- Client → komputer yang meminta layanan (misalnya komputer siswa).
- Server → komputer yang menyediakan layanan (misalnya komputer server sekolah).
📌 Cara kerjanya:
- Client terhubung ke Server melalui jaringan.
- Client login menggunakan username & password (atau login anonymous).
- Setelah login, client bisa:
- Upload file → kirim file ke server.
- Download file → ambil file dari server.
- Setelah selesai, client disconnect dari server.
🔧 Contoh Kasus
- Guru menyiapkan server FTP di lab.
- Siswa membuka aplikasi FTP Client (contoh: FileZilla) di komputer masing-masing.
- Siswa masukkan IP server, username, password, lalu klik connect.
- Setelah berhasil:
- Download file “modul_praktikum.pdf” → kerjakan.
- Upload file “tugas_kelompok.zip” → supaya guru bisa periksa.
📌 Kesimpulan:
Client = yang minta file / kirim file.
Server = yang menyediakan tempat penyimpanan file.
2️⃣ Perbedaan Active Mode dan Passive Mode
FTP bisa bekerja dengan dua mode koneksi: Active Mode dan Passive Mode.
Keduanya mempengaruhi bagaimana koneksi data dibuka antara client dan server.
🔵 Active Mode
- Client → membuka koneksi ke port 21 server (untuk perintah).
- Server → membuka koneksi balik ke port acak di komputer client (untuk transfer data).
📌 Sederhana-nya:
Server yang “menelpon balik” ke client untuk mengirim data.
Kelebihan:
- Lebih cepat di jaringan lokal.
Kekurangan:
- Kadang terblokir firewall karena server mencoba “masuk” ke komputer client.
Contoh Kasus:
- Di lab sekolah, komputer siswa dan server berada di jaringan yang sama.
- Guru minta siswa upload file.
- Server langsung mengirim data balik ke komputer siswa → tidak ada masalah karena tidak ada firewall yang menghalangi.
🟢 Passive Mode
- Client → membuka koneksi ke port 21 server (untuk perintah).
- Client juga yang membuka koneksi ke port data yang disediakan server.
📌 Sederhana-nya:
Client yang menghubungi server sepenuhnya (tidak ada koneksi balik dari server).
Kelebihan:
- Aman digunakan di jaringan internet atau jaringan dengan firewall.
- Lebih mudah melewati NAT (misalnya WiFi sekolah yang ada proteksi).
Kekurangan:
- Sedikit lebih lambat dibanding Active Mode.
Contoh Kasus:
- Siswa mengakses FTP server sekolah dari rumah melalui internet.
- Karena ada firewall, koneksi Active Mode akan gagal.
- Dengan Passive Mode, client yang mengatur semua koneksi → berhasil download/upload file.
3️⃣ Ilustrasi Sederhana
| Mode | Siapa yang membuka koneksi data? | Cocok digunakan di… |
|---|
| Active | Server yang menghubungi Client | Jaringan lokal (LAN) |
| Passive | Client yang menghubungi Server | Internet / jaringan yang ada firewall |
4️⃣ Kesimpulan
- Client–Server Model = Client minta, server memberi.
- Active Mode cocok di LAN, lebih cepat, tapi bisa terblokir firewall.
- Passive Mode cocok di internet atau jaringan dengan proteksi.